Ekosistem Perusahaan Startup: Bertukar Benefit dalam Pengelolaan Talent

Oleh : 
Junita R. Maryam - Business Ecosytem Development

Suatu hari di tahun 2015, saya sedang duduk di sebuah coffee shop dengan rekan yang pernah gagal merintis usaha startup di bidang Financial Technology (Fintech). Setelah berbincang cukup lama, saya menemukan sebuah fakta yang jarang saya temui di balik kegagalannya, yaitu gagal memenuhi product roadmap yang dijanjikan kepada investor karena Tim Developer tidak dapat memenuhi kualitas yang diharapkan. Upayanya merekrut seorang Project Manager dengan sertifikasi PMP (Project Manager Professional) juga tidak turut banyak membantu karena Sang Project Manager tidak berani  mengorbankan kualitas demi mengejar time to market.

Dengan diagnosa tersebut, seorang Praktisi Human Capital tentu saja akan merekomendasikan startup agar memiliki proses rekrutmen yang mumpuni, menyusun competency matrix, atau membangun teamwork culture. Tetapi lagi-lagi, kita tidak memiliki waktu yang banyak untuk menunggu proses Human Capital menjadi mapan. Jika hal ini terjadi, wajar saja jika urusan SDM akhirnya dianggap sebagai cost dan bukan dianggap sebagai capital.

 

Fokus pengelolaan Human Capital atau Talent pada perusahaan yang sudah well-established umumnya berpusat pada peningkatan kemampuan dan kualitas (capacity building), namun pada perusahaan startup kebutuhannya jauh melampaui hal tersebut. Hal ini membuat pengelolaan Talent pada perusahaan startup menjadi aktivitas yang penting selain mengelola dana investasi dan effort pemasaran.

Menanggapi situasi dan dilemma startup, kebanyakan dari Praktisi Human Capital dan pemimpin startup dunia maupun lokal sepakat apabila proses rekrutmen menjadi awal yang sangat menantang untuk memulai serangkaian proses pengelolaan Talent. Meskipun memiliki tantangan dan kesulitan yang relatif sama, faktor penentu keberhasilan dapat berbeda-beda dalam setiap success story. Perusahaan startup X mungkin menitik beratkan pada efektivitas proses induction training untuk membangun budaya kerja, namun perusahaan startup Y bisa saja sukses karena membuat lingkungan kerja yang “super-nyaman” untuk menstimulasi kreativitas talent-nya. Banyak hal yang mempengaruhi pengelolaan Talent pada setiap startup, untuk itu success story memang tidak dapat diadaptasi mentah-mentah.

Berbicara mengenai aspek Talent pada ekosistem startup tidak lepas dari mengidentifikasi lingkungan sekitar yang dapat menyuntikkan SDM berkualitas ke dalam organisasi. Setiap startup tentunya tidak ingin menghabiskan working capital hanya untuk mengelola Talent yang tidak dapat memberikan value bagi bisnis, sehingga pemilihan Talent pun dilakukan dengan cara yang relatif berbeda karena dilakukan sambil mengembangkan employer branding. Bahkan terkadang, karena belum memiliki employer branding dan jaminan sustainability, perusahaan startup tidak segan untuk menggaji Talent lebih mahal sebagai kompensasinya.

Walaupun dihadapkan dengan berbagai keterbatasan, pemain startup tetap menginginkan Talent yang berkualitas, yaitu Talent yang dapat memberikan perusahaan bahan bakar untuk melangkah ke depan dan berkembang. Jika culture di dalam startup masih belum teruji, salah satu jalan ampuh untuk menggaet Talent adalah dengan menguji skill mereka, bukan terpatok pada apa yang tertulis di dalam CV.

“Ujian skill” ini merupakan teknik yang lebih efektif daripada sekedar Competency-based Interview (CBI). Ibaratnya, “Jika kamu bisa, buktikan!” Berikan mereka case study dimana mereka bisa mendemonstrasikan skill-nya, mulai dari programming sederhana atau pekerjaan apapun yang akan mereka hadapi di posisi tersebut. Hal ini sangat esensial, terutama untuk Applicants yang sebelumnya bekerja di perusahaan kelas Kakap.

Mengakomodir ide tersebut, akhirnya berbagai startup berinisiatif untuk bekerja sama dengan Universitas dan Training Centre. Peluang kerja sama ini sangat beneficial bagi kedua pihak, dimana startup akan mendapatkan potential Talent, sementara Universitas dan Training Centre mendapatkan eksposur berupa jaminan lapangan pekerjaan. Kerja sama seperti ini tentunya dapat dilakukan dengan variasi ruang lingkup dan lembaga.

Di samping issue mengenai Pengelolaan Talent, Leadership ternyata menjadi suatu tantangan bagi startup. Seseorang yang memiliki ide brilian, belum tentu bisa menjadi Leader yang baik. Peranan Leader menjadi sangat cruicial di dalam lingkungan startup, dimana kerja sama tim menjadi hal yang utama. Talent berkualitas pun tentunya menginginkan Leader yang berkualitas juga.

Para Pemain Startup yang telah sukses, konsultan, bahkan pengusaha di Indonesia, kini tidak segan untuk menjadi Mentor bagi calon Leader startup. Mereka siap untuk berbagi rahasia dapur, bahkan menjadi Pembina dalam asosiasi dan komunitas. Meskipun terdapat idealisme Sang Founder saat mendirikan startup, namun memiliki seorang Mentor yang paham mengenai industri dan kompleksitas usaha akan sangat membantu apabila organisasi sedang dihadapkan oleh kondisi-kondisi sulit.

Dengan demikian, mengelola Talent di dalam perusahaan startup tidak hanya seputar mengembangkan hard skill di level doer saja, namun juga mengembangkan soft skill (Leadership) Manajemen dan Founder. Startup disarankan untuk menjalin kerja sama yang beneficial dengan lingkungan sekitar agar tidak nyasar dan mengakibatkan terjadinya “cash burn” yang disebabkan oleh kesalahan ssistem SDM – atau lebih parah, shut down sebelum mencapai puncak.